Menurut Tan Malaka,
kepercayaan Asia Barat ialah agama Yahudi, Kristen atau Nasrani, dan Islam.
Ketiganya pada umumnya disebut Monotheisme, kepercayaan kepada yang esa. Agama Yahudi terbatas hanya untuk
bangsa Yahudi saja, sedangkan agama Nasrani dan Islam dipercaya oleh berbagai
bangsa di dunia. Tetapi menurut Tan Malaka, agama Yahudi mengandung inti dan
pokok ketiga agama itu yang merupakan pelopor Monotheisme dilihat dari segi
sejarah.
Dipandang dari kacamata
Madilog, ketiga agama tadi dianggap berdiri sama tinggi, maksudnya tidak ada
yang lebih tinggi atau dibawahnya. Ketiganya berdasarkan kepercayaan dan
kepercayaan ini lahir pada masyarakat Yahudi. Begitu pula dengan pengaruh yang
ditimbulkan satu sama lain. Tetapi terhadap intisari kepercayaan itu, yaitu
kepercayaan tentang ke-Esa-an Tuhan, adanya jiwa manusia yang terpisah dari
badan dan dari akhirnya jiwa ini, dll, ketiga agama tadi tidak mengandung
perbedaan yang berarti. Kepercayaan semacam itu tentu masuk golongan yang
berada di luar daerah pembahasan Madilog. Kepercayaan itu sebagian besar
bersandar atas perasaan, bukan pada panca indera dan akal. Dengan begitu dia
tidak masuk ke dalam daerah pemeriksaan Madilog. Terakhir menurut Tan Malaka, agama
Yahudi, Nasrani, dan Islam yang ketiganya lahir di masyarakat bangsa Semit ( Yahudi dan Arab) itu
dianggapnya Tiga Sejiwa bukan Tiga Serangkai. Jiwa ialah inti pokok ketiga agama itu sama,
hanya cabang dan rantingnya saja yang berlainan.
Menurut
Tan Malaka, sumber yang diperolehnya dari agama Islam itulah sumber yang hidup.
Ia lahir dari keluarga yang taat agama. Orang tuanya adalah muslim dan muslimah
yang taat dan tekun beribadah. Sewaktu masih kecil Tan Malaka mampu menafsirkan
Al-Qur’an, dan dijadikan sebagai guru muda. Walaupun otaknya terkontaminasi
dengan pemikiran pemikiran barat tetapi karena iman yang kuat Tan Malaka tak
goyah dalam berpegangan terhadap agamanya dan buku buku islam yang ia baca.
Tan Malaka
mempermasalahkan tentang sejarah Islam yang sepengetahuannya saat itu masih
belum ditulis. Menurutnya buku Foundation of Christianity untuk
agama Islam belum lahir. Selanjutnya ia menguraikan tentang keadaan masyarakat
Arab pada waktu sebelum dan setelah lahirnya Muhammad serta awal mula Muhammad
mendapat wahyu dan diangkat menjadi Rasul Allah. Masyarakat Arab pada saat
Muhammad lahir adalah masyarakat yang jahiliah, yang banyak membunuh bayi
perempuan, yang ramai akan pembunuhan, perampokan, dan masih banyak
kejahiliahan lainnya. Lalu diuraikan tentang kehidupan Muhammad dari kecil
hingga dewasa yang penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga bagi diri manusia
itu.
Memang,
masyarakat Arab asli ketika itu membutuhkan ke-Esa-an pimpinan sekurangnya sama
dengan kebutuhan yang dirasa oleh Nabi Musa dan Nabi Daud. Pada masa Nabi
Muhammad, bangsa Arab terdiri dari berbgai suku dan menyembah berbagai macam
berhala. Muhammad bin Abdullah merenung dan memikirkan tentang keadaan
masyarakat Arab serta mencari jalan keluar atas berbagai persoalan kehidupan
pada saat itu. Ia mencari keberadaan Tuhan. Ia tertarik oleh Tuhan Esa-nya Nabi
Ibrahim, Musa, dan Daud. Disini Tuhan lebih ternag ke-Esa-annya. Menurut
Muhammad bin Abdullah Tuhan tidak bisa dibendakan. Ia semata-mata bersifat
rohani. Tuhan yang semata-mata bersifat rohani yang tak dipatungkan lagi itu
baru terdapat pada agama nasrani sesudah munculnya Martin Luther danCalvin berarti
setelah 1500 tahun Nabi Isa lahir atau setelah 900 tahun Nabi Muhammad wafat.
Dalam gereja Protestan kita tidak melihat lagi patung Nabi Isa yang disalib.
Dengan Yahudi, Muhammad bertentang pendapat tentang fungsi kekusaan para Rabbi
yang sangat mutlak. Menurutnya seorang hamba dapat langsung meminta dan
berhubungan dengan Tuhannya tanpa perantara siapapun. Dari semua hal tersebut,
Muhammad bersikap kritis terhadapagama Yahudi dan Nasrani.
Masyarakat
Arab yang percaya Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai Rasulullah
ternyata belum cukup kuat mempersatukan suku-suku Arab yang berseteru. Bahkan
hal itu menimbulkan ejekan, kebencian, caci maki, dan segala bentuk gangguan
kepada Muhammad. Di dunia fana inilah harus dicari sesuatu yang bersifat
kenikmatan atau kesengsaraan yang dapat mendorong manusia untuk takut berbuat
jahat dan gemar berbuat baik. Itulah surga dan neraka. Lalu bagaimana konsep
surga dalam Islam ? surganya Islam itu sangat kuat pengaruhnya seperti kutub
utara menarik jarum kompas. Sebelum sampai ke surga jannatuna’im itu sesudah
Muhammad S.A.W wafat, orang-orang Arab dan Badui yang sudah bersatu itu
mendapatkan surga dunia di Syria, Mesir, Spanyol, Iran, India. Paracalon
syahud mengalir bagai banjir dari seluruh penjuru Arab di bawah semboyan “Tuhan
itu ialah Allah dan Muhammad itu ialah rasul-Nya. Tiada satu negara dan bangsa pun
yang beratus-ratus tahun dapat bertahan dibanding kekuasaan Arab. Begitu
cocoknya surga Islam dan konsep mati syahid itu dengan watak dan sifat
masyarakat Arab.
Allah
itu menurut logika tentulah tidak disebut “Maha Kuasa” kalau tidak dapat
menentukan nasib segenap umat manusia setiap waktu. Setiap saat ia dapat
menghentikan jalannya matahari, peredaran bintang dan bumi. Setiap saat ia
dapat mematikan tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Sebaliknya manusia juga
tidak boleh takut menghadapi bahaya maut apapun kalau Tuhan Yang Maha Kuasa itu
belum memnggilnya. Dalam Islam hal ini dinamakan Takdir Tuhan. Calvin,
bapaknya mazhab Protestan, pada abad ke-17 juga mengemukakan hal ini. Oliver
Cromwell di Inggris dan tentaranya yang diakui paling nekat pun oleh ahli
sejarah barat juga mengikuti kepercayaan ini. Dalam hal ini tidak dapat
dibantah pengaruh Islam pada dunia Kristen. Oleh karena itulah Tan Malaka
mengatakan bahwa monotheismenya Nabi Muhammad-lah yang paling konsisten dan
konsekuen, terus dan lurus. Maka itulah sebabnya menurut logika, bahwa
Muhammad-lah yang terbesar diantara nabi-nabi monotheisme. Begitu juga dengan
konsistensi memegang dasar nilai itu Muhammad tidak ketinggalan. Ketika seluruh
Mekah memusuhinya, mengancam jiwanya dan dalam keadaan seperti itu
musuh-musuhnya menawarkan harta dan pangkat bila mau menghentikan
propagandanya, Muhammad berkata: “Walaupun di sebelah kiriku ada bintang dan di
sebelah kanan ada matahari yang melarang, saya harus meneruskan perintah
Allah”. Tetapi sekali lagi dapat dikatakan bahwa pada Islam masalah ke-Esa-an
Tuhan itu juga mengalami pertentangan banyak pendapat dan sifatnya sampai ke
puncak.
Jadi,
menurut Madilog, Yang Maha Kuasa itu bisa lebih berkuasa daripada hukum alam.
Namun selama alam ada dan selama alamraya itu ada, selama itu pulalah hukumnya
alam raya yang berlaku. Menurut hukum alam raya, materilah yang mengandung
kekuatan dan menurut hukum, dengan itulah caranya materi itu bergerak, berpadu,
berpisah, menolak, menarik, dan sebagainya. Kekuatan materi dan hukum alam
jelas masuk dalam pembahasan ilmu bukti. Berhubung dengan hal tersebut, maka
permasalahan tentang Yang Maha Kuasa, tentang jiwa yang terpisah dari jasmani,
surga atau neraka yang berada di luar alam semesta, tidak dikenal dalam ilmu
bukti. Semua ini adalah di luar daerah pembahasan Madilog. Semua itu jatuh ke
daerah “kepercayaan” masing-masing. Ada atau tidaknya itu pada
tingkat terakhir ditentukan oleh kecendrungan msing-masing orang. Tiap-tiap
manusia bebas menentukannya dalam kalbu dan hati sanubarinya sendiri. Dalam hal
ini Tan Malaka mengakui kebebasan berpikir orang lain sebagaimana ia menuntut
pula orang lain menghargai kebebasannya untuk memilih paham yang diterapkan.
“Madilog”
ialah cara berpikir, yang berdasarkan Materialsime[3], Dialektika[4] dan Logika[5] buat mencari akibat, yang
berdiri atas bukti yang cukup banyaknya dan tujuan diperalamkan dan di
peramati.
[1] Bahan bedah Karya Tan Malaka
“Islam dalam tinjauan Madilog” di MABES PERMAHI Semarang 3 Februari 2011
[2] Kepala Biro Khusus
PERMAHI DPC Semarang,Presiden MATAHATI UNNES. Peneliti Dewa Orga
[3] Materialisme berawal dari kata material yang berarti semua yang
terasa dan terlihat oleh panca indra,isme sendiri dapat diartikan sebagai
pemikian ,jadi meterialisme dapat diartikan sebagai suatu aliran yang mempunyai
pemikiran tentang segala sesuatu yang Nampak yang masih terlihat dan terasa
oleh mata adalah relitas sesungguhnya,diluar suatu yang terlihat itu masih di
tiadakan.Merterialisme diambil dari bahasa inggris yang berarti
materialism,ajaran ini menekankan keunggulan factor – factor material atas yang
spiritual dalam metafisika,teori nilai, fisiologi, epistimologi atau penjelasan
sejarah. http://filsafat.kompasiana.com/2009/12/05/materialisme/
[4] Dialektika secara etimologis, dalam kata Yunani, berarti
suatu seni berdiskusi dengan aturan-aturan khusus atau "seni
berdebat" atau disebut juga seni penyelidikan kebenaran opini (Mayo, 1960)
http://kuliahfilsafat.blogspot.com/2009/04/dialektika.html
[5] Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang
berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan
dinyatakan dalam bahasa. http://id.wikipedia.org/wiki/Logika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar